Home / Strategi / FUNGSIKAN INDIKATOR DENGAN “CERDAS”
less

FUNGSIKAN INDIKATOR DENGAN “CERDAS”

Inforexnews, Strategi – Kita semua mengetahui bahwa pergerakan harga pada pasar bebas dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran (Supply and Demand). Semakin tinggi permintaan maka harga semakin tinggi apalagi distribusi barang semakin sedikit. Minat beli begitu tinggi berbanding dengan minat jual, sehingga minat jual hanya membentuk koreksi pada gelombang harga naik. Begitupun sebaliknya.

Overbough dan Oversold adalah sebuah subjektivitas. Suatu barang dikatakan mahal apabila kemampuan beli menurun dan suatu barang menjadi murah dikarenakan kemampuan jual mengalami kendala dan barang yang tersedia melimpah. Harga berada pada sebuah level dikarenakan ia memang harus berada pada level tersebut.

Harga dan Volume dalam pasar adalah sebuah fakta yang tidak terpengaruh oleh sebuah indikator. Memang demikian adanya, mungkin sebagian kita mengatakan bahwa sudah jenuh jual atau jenuh beli, perlu diketahui bahwa harga bergerak begitu dinamis, disaat anda mengalami keuntungan dalam transaksi maka disisi lain mengalami kerugian. Ada banyak indikator yang menunjukkan jenuh jual dan jenuh beli tetapi pada kenyataannya harga yang menurut indikator pada level overbough justru harga bergerak semakin tinggi dan disaat indikator menunjukkan jenuh jual justru harga bergerak semakin kebawah.

Apakah ada yang salah pada indikator tersebut? Tentu tidak. Indikator hanya menunjukan kondisi dari indikator tersebut , tidak mencerminkan sepenuhnya pergerakan harga yang terjadi pada pasar, maka kita harus jernih membuat sebuah keputusan jual dan beli dengan memahami fungsi dari supply and demand.
aaaaaaa
Kita melihat Moving Average Simple Close 20, yaitu rata-rata pergerakan selama 20 sesi perdagangan sebelumnya. Pada point A candle close dibawah MA 20, pada indikasi MA menunjukkan penurunan. Memang harga turun, tetapi bukan dikarenakan indikasi dari MA tersebut, namun lebih dikarenakan minat jual pedagang setelah rally harga yang cukup lebar dalam tren naik sebelumnya. Jika kita ambil keputusan Sell, ini memang keputusan yang tidak salah apalagi terjadi breakout pada level supply area, dan harga berada dibawah slope MA 20, namun posisi ini tidak bertahan lama, hanya 2 sesi perdagangan yang turun setelah breakout pada area supply.Harga berhenti! Dan reversal kembali setelah menyentuh area demand. Jika kita tetap ngotot dan hold posisi sell tanpa memperhatikan level demand, dan hanya berdasarkan MA 20, besar kemungkinan kita akan mengalami kegagalan trade. Setelah menyentuh demand area Harga naik kembali ke area supply. Ketika harga naik, dan kita melihat candle bullish berhasil close diatas MA 20, jika kita berpedoman pada MA 20, kemungkinan besar trade kita juga gagal. Walaupun close harga diatas MA 20, namun harga menyentuh level supply. Pada titik point B, harga membentuk pola bearish harami, dan sekali lagi harga kembali turun kembali ke level demand. Pada titik point C, harga bergerak alot pada level Supply yang ke dua. Harga berada dalam rata-rata MA 20 sebelum terjadi breakout ke bawah. Setelah terjadi breakout harga secara gradual berhasil menembus demand area, dengan demikian posisi Demand bertukar menjadi supply area. Posisi pergerakan MA20 kita perhatikan mulai merata dan melengkung ke bawah, dan pergerakan candle berada dibawah slope MA. Perlu diingat bahwa bukan indikator yang membentuk harga, indikator terbentuk setelah ada pergerakan harga. Indikator hanya sebagai tool pendukung analisa, maka kita perlu cerdas memanfaatnya. bbbbbbbbbbIndikator akan berguna jika kita memahami fungsinya dengan baik ,dipadukan dengan area supply dan demand serta memahami price action, mudah-mudahan membantu setup transaski anda dengan lebih baik. @SP

About ASP

Check Also

entry-posisi

FOREX TRADING AKURASI ENTRY POSISI

Akurasi. Seberapa akurat entry posisi anda dalam transaksi forex? berapa rasio antara benar dan salah? Posisi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »