Home / Inforexnews / Masa Lalu Yang Penuh Gejolak Dan Masa Depan Yang Tidak Pasti Antara China Dan Inggris
Kesepakatan China dan Inggris

Masa Lalu Yang Penuh Gejolak Dan Masa Depan Yang Tidak Pasti Antara China Dan Inggris

INFOREXNEWS – China dan Inggris memiliki sejarah hubungan internasional yang sangat panjang, kurang lebih sekitar 400 tahun diplomasi dan perdagangan antar kedua negara tersebut. Namun, hubungan antar kedua negara tersebut tidak selalu berjalan dengan mulus. 

Pada pertengahan abad ke – 19, terjadi kericuhan antara China dan Inggris yang disebut dengan “Perang Opium.” Perang ini disebabkan karena China berusaha untuk menghentikan Inggris dalam penyelundupan dan menjual obat opium yang sangat adiktif di dalam negeri. Pada saat itu China kalah dari militer Inggris yang lebih berpengalaman, mereka dipaksa untuk membayar denda kepada Inggris, membuka pelabuhan untuk perdangangan luar negeri dan memberikan kekuasaan kepada Inggris untuk mengkontrol Hong Kong. 

Namun, kekuasaan Inggris untuk mengkontrol Hong Kong berakhir pada tahun 1997. Dan pada saat itu lah hubungan antar kedua negara tersebut mulai membaik kembali. Mantan Perdana Menteri Inggris David Cameron yang memimpin misi dagang ekonomi terbesar ke 2 di dunia pada tahun 2015 itu menyatakan bahwa didalam kunjungannya ke China, negara itu telah memperoleh perdagangan Inggris dan investasi senilai 40 miliar pound atau setara dengan 52.400.000.000 dollar AS. Sebagai imbalannya, Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan ke Inggris tahun lalu yang disebut sebagai “saat yang menentukan” dalam hubungan Sino-UK. 

Pada tahun 2014, Inggris melakukan ekspor ke China senilai 18.700.000.000 pound, sementara impor dari China ke Inggris senilai 38.300.000.000 pound. Selain itu, Inggris juga memiliki defisit perdagangan sebesar 19,6 miliar pound di China. China memberikan 3,6% dari kegiatan ekspor Inggris dan 7% dari kegiatan impor Inggris, dan hal itu membuat China menjadi pasar ekspor terbesar yang ke 7 dan menjadi pasar impor terbesar yang ke 3. 

Tetapi, China tetap menjadi tempat yang sangat sulit untuk melakukan bisnis dan mendapatkan peringkat ke 84 dari 189 negara dalam “Doing Business” di Kelompok Bank Dunia 2016. Meskipun banyak hambatan untuk melakukan bisnis, pemerintah Inggris telah mendorong pertumbuhan bisnis. Dalam laporan pemerintah Inggris Desember lalu, China disebut sebagai “kisah sukses besar ekonomi 30 tahun terakhir” dengan “pasar yang besar dan berkembang untuk bisnis Inggris”. Dengan ekspor Inggris ke China naik 9% pada tahun 2014, dan produsen mobil Jaguar Land Rover sebagai eksportir terbesar di Inggris ke China pada tahun itu. 

Pada tahun 2015, Inggris menerima $ 3,3 miliar dalam investasi langsung (FDI) dari data yang diterbitkan oleh firma hukum Baker McKenzie dan menempatkannya diantara 3 negara terbatas untuk FDI China yang bersama dengan Italia dan Perancis. Bahkan, FDI China di Eropa mencapai rekor tertinggi senilai $ 23 miliar pada tahun 2015, sekitar 35% lebih tinggi dari investasi Amerika Utara.

Meskipun upaya pemulihan hubungan diplomatik dan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir ini, hubungan antara China dan Inggris masih belum ada kepastian, terutama mengingat keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (UE). Namun, beberapa pakar ekonomi berpikir Inggris akan terlihat lebih menarik untuk China ketika telah bebas dari aturan – aturan perdagangan UE. 

Kepala Ekonom Asia di Capital Economics Mark Williams mengatakan bahwa hubungan antara Sino-UK masih belum saling menguntungkan. China telah melihat Inggris sebagai jembatan untuk menyeberangi ke seluruh UE, dan pemerintah Inggris telah lama terbuka untuk masuknya investasi, dengan sedikit keraguan tentang menjual aset nasional kepada orang asing, bahkan untuk memperluas infrastruktur, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir Hinkley Point.

Hubungan prespektif Inggris ini masih didominasi oleh layanan yang berorientasi dan belum mampu mendapatkan keuntungan yang banyak dari ekonomi China. Namun, pembangunan dan investasi intensif di China sejak pergantian abad masih belum memberikan keuntungan yang besar bagi Inggris. Banyak yang berharap bahwa rebalancing terhadap konsumen dan layanan yang didorong oleh model pertumbuhan di China akan lebih baik jika sesuai dengan Inggris. (Leonardo/Inforexnews)

About Nilsen

Check Also

gas-alam

Futures Gas Alam Lebih Tinggi Pada Sesi Eropa

INFOREXNEWS – Futures gas alam naik lebih tinggi pada sesi eropa di hari Jumat 9/12/2016 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »