Pemerintah Jepang Kritik Terhadap Perusahaan Yang Banyak Menghabiskan Capex
Home / berita / Pemerintah Jepang Kritik Terhadap Perusahaan Yang Banyak Menghabiskan Capex

Pemerintah Jepang Kritik Terhadap Perusahaan Yang Banyak Menghabiskan Capex

Dalam sebuah perusahaan untuk memberikan yang terbaik dibutuhkan dana dan juga kinerja dari para karyawannya, saat ini Pemerintah Jepang mengatakan jikalau ada kebutuhan guna memacu performance perusahaan, banyak yang menghabiskan uang tunai tumpukan capex, meskipun hal itu diperlukan namun apa yang dikatakan mantan perdana menteri Jepang Taro Aso malahan sebaliknya.

Seperti yang dilansir dari Reuters, Aso yang seorang pengusaha, pada hari ini mengkritik perusahaan Jepang yang terlalu banyak menghabiskan uang tunai, dan dikatakan olehnya bahwa pemerintah harus mengambil langkah-langkah guna mendorong mereka dalam meningkatkan pengeluaran investasi upah dan bisnis.

Cadangan internal, atau laba saldo memang masih termasuk dalam uang tunai, dan pada perusahaan-perusahaan Jepang juga telah mengalami peningkatan sebesar 101 triliun yen, selama empat tahun jumlahnya sudah sekitar 400 triliun yen ($3.53 triliun). “Sudah terlalu jauh dalam pengaplikasiannya, kita sebagai pemerintahan harus memikirkan cara-cara bagaimana uang itu untuk dihabiskan dalam belanja modal dan upah,” sambungnya.

Namun, Aso mengatakan itu akan sulit diterapkan untuk pajak cadangan internal, yang telah diusulkan oleh Gubernur Tokyo Yuriko Koike dari Party of Hope, karena hal tersebut menyebabkan pajak berganda pada perusahaan yang membayar pajak perusahaan.

Pembuat kebijakan Jepang berharap bahwa pemulihan ekonomi yang berkelanjutan akan meningkatkan upah dan peningkatan pendapatan rumah tangga, meskipun banyak analis mengharapkan inflasi untuk tetap jauh dari target bank sentral 2 persen.

Aso berbicara kepada wartawan setelah rapat kabinet, dan dirinya juga menyinggug beberapa laporan media yang mengatakan Amerika Serikat yang sangat menunggu pembicaraan tentang hubungan bilateral mengenai perjanjian perdagangan bebas (FTA) minggu ini.

Aso yang saat ini menjabat Wakil Perdana Menteri, bertemu dengan Wakil Presiden Mike Pence untuk dialog di Washington, di mana Jepang dan Amerika Serikat tetap bertentangan atas tuntutan pembicaraan FTA US.

“Kami sudah memberitahu mereka bahwasanya kami akan mulai TPP 11 (Trans-Pacific Partnership) dan itu akan berkontribusi terhadap kepentingan nasional kita jika Amerika Serikat bergabung,” tambahnya.

Seperti diketahui, Amerika Serikat telah ditarik dari TPP awal tahun ini di bawah kebijakan Presiden Donald Trump, dan hal tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang meingkatnya proteksionisme di seluruh dunia.

About RomyFlo

Check Also

Ketidakpastian Politik Zona Eropa Pukul Euro

Euro memukul rendah dua bulan terhadap yen pada hari Senin, (20/11) di sesi perdagangan Asia. …