Bearish Kuat Pada Minyak Mentah: Defisit Kepercayaan Bagi Arab Saudi
Home / berita / Bearish Kuat Pada Minyak Mentah: Defisit Kepercayaan Bagi Arab Saudi

Bearish Kuat Pada Minyak Mentah: Defisit Kepercayaan Bagi Arab Saudi

Arab Saudi mengumumkan pemotongan satu juta barel ketika rapat OPEC pada bulan Desember. Yang secara Supply dan Demand akan mampu mendongkrak harga minyak menjadi lebih bernilai dimata pasar. Namun yang menjadi masalah saat ini adalah, apakah pasar memiliki keyakinan pada Arab Saudi untuk melakukan apa yang dikatakannya?

Hal inilah yang menjadi masalah nyata bagi Arab Saudi saat ini, sebuah “defisit kepercayaan” yang telah terjadi sejak musim panas lalu yang disebabkan oleh serangkaian kesalahan produksi dan janji dari eksportir minyak mentah terbesar dunia ini.

Energy Aspects yang berbasis di London – yang dikenal dengan ulasannya tentang dasar-dasar dan politik perdagangan energi – menyinggung dalam catatan mereka pada hari Senin lalu bahwa aksi jual 12 hari pada minyak mentah baru-baru ini telah banyak terpengaruh oleh kesalahan Saudi dan juga sanksi ekspor minyak Iran yang lebih lemah dari Presiden AS Donald Trump.

Agensi ini menulis:

“Apakah Arab Saudi menyadari atau tidak, terdapat krisis kepercayaan atas kebijakan Kerajaan. Komitmen Saudi Arabia untuk menstabilkan cadangan pada atau mendekati rata-rata lima tahun sedang dipertanyakan dan kekhawatiran seputar tahun 2014 kembali muncul, terutama akibat persediaan minyak mentah AS sedang melonjak.”

Krisis kepercayaan pada Arab Saudi dimulai pada bulan Juni lalu ketika perintah presiden Trump yang baru saja mengumumkan sanksi kepada Iran, Riyadh memutuskan untuk mengakhiri pembatasan produksi 18 bulan dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah berkoordinasi dengan Rusia. Pemotongan yang disebut OPEC+ untuk membatasi kelebihan pasokan tiga tahun dan keruntuhan harga yang membawa minyak mentah ke posisi terendah multitahun hampir sebanyak $25 per barel pada tahun 2016.

Secara terbuka, Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih menolak permintaan presiden Trump untuk menambah pasokan, membiarkan patokan minyak mentah (Brent) melambung hampir $87 per barel antara Mei dan Oktober. Tapi secara pribadi, ahli waris Kerajaan dan Pangeran Mahkota, Mohamad bin Salman, meyakinkan Washington bahwa output akan dinaikkan sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi kehilangan minyak dari Iran. Komplikasi dalam kolaborasi ini adalah Menteri Energi Rusia Alexander Novak, secara diam-diam didukung oleh bosnya sendiri President Vladimir Putin.

Energy Aspects menyimpulkan kesulitan bagi Arab Saudi:

“Tugas OPEC pada 6 Desember sangatlah sederhana, tetapi kami tidak ragu bahwa OPEC dan Rusia akan membuatnya menjadi rumit.” “Pasar hampir sepenuhnya menyerah pada narasi Bullish, karena tidak tahu apakah Saudi dapat memenuhi janji-janjinya atau bagaimana hubungan mereka dengan AS akan berevolusi mengingat awan hitam yang sedang berada di atas Mohammad bin Salman.”

Pasar Teraniaya… Dan Politik
Awan Hitam itu tidak lain adalah adanya fakta bahwa Mohammad bin Salman telah menjadi dalang pembunuhan terhadap kritikus dirinya, seorang jurnalis kelahiran Saudi dan penduduk AS bernama Jamal Khashoggi. Investigasi CIA rupanya menyimpulkan bahwa sang putra mahkota lah yang telah menjadi dalang pembunuhan tersebut, meskipun ada penolakan dari Kerajaan. Phil Flynn, seorang analis minyak di Price Futures Group, di Chicago mengatakan bahwa, “Laporan CIA ini dapat berdampak pada harga minyak mentah.”

 

 

About Mata Trader

Check Also

Gemini Menambahkan Dukungan Untuk Perdagangan Kas Bitcoin

Bitcoin Terus Bergerak Dalam Indikasi Over Sold, Apa Selanjutnya?

Transaksi Bitcoin selalu terbentuk dala indikasi Oversold, tidak jarang altcoin pun juga memasuki wilayah oversold …