>
Home / berita / Demi Trading Bitcoin , Pegawai Bank Ini Lakukan Kredit Fiktif Rp 1,5 M

Demi Trading Bitcoin , Pegawai Bank Ini Lakukan Kredit Fiktif Rp 1,5 M

Seorang mantri (petugas kredit) sebuah bank di Lamongan terjerat kredit fiktif karena tergiur online trading. Tak tanggung-tanggung, kredit fiktif yang dilakukan sang mantri bank lebih dari Rp 1,5 miliar.

Di Hari Bhakti Adhyaksa ke-59, Kejaksaan Negeri Lamongan menangkap seorang mantri sebuah bank di Lamongan karena terlibat dalam kasus kredit fiktif. Mengenai kasus kredit fiktif itu, Kejari telah melakukan penyidikan sejak 25 Juni 2019 berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor 01/0.5.35/FG.1/06/2019.

Tindak pidana korupsi kredit fiktif ini terjadi di bank pelat merah unit Mantup, kantor cabang Lamongan pada tahun anggaran 2018. “Kami telah melakukan pemeriksaan terhadap 10 saksi,” kata Kasi Pidsus Kejari Lamongan, Yugo Susandi pada wartawan, Senin (22/7/2019). Para saksi yang diperiksa ini yaitu para pejabat bank pelat merah itu unit Mantup dan debitur-debitur yang namanya digunakan untuk kredit fiktif.

Menurut Yugo, dari hasil penyelidikan pihaknya kemudian melakukan pemeriksaan dan penetapan tersangka terhadap mantri bank dengan inisial AT (31), yang merupakan pegawai bank tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan, lanjut Yugo, tersangka melakukan kredit fiktif ke 38 rekening pada kurun waktu 2018 sampai 2019. Dia mengawali aksinya saat masih menjadi pegawai bank, berlanjut setelah dia diangkat menjadi mantri. “Kemudian AT diangkat jadi mantri dan melakukan tindakan kredit fiktif dengan mempergunakan data nasabah dari berkas UPedes yang telah lunas dan atau permohonan ditolak,” terangnya.

“Selanjutnya data nasabah yang lunas itu di-entri oleh AT ke dalam aplikasi untuk diproses dan diputus melalui aplikasi dan dilakukan tanpa sepengetahuan nasabah karena hanya tersangka ini saja yang mengetahui password-nya,” imbuhnya.

Dari pengakuan tersangka, lanjut Yugo, uang hasil kredit fiktif ini semuanya dipergunakan tersangka untuk transaksi Forex dan bitcoin secara online. Kejari juga menyita akun bitcoin, email dan juga transaksi online tersangka yang saat ini ternyata sudah nol.

Transaksi Forex berupa trading bitcoin ini, kata Yugo, juga sudah mencapai Rp 1 miliar lebih. “Dari pengakuan dan penelusuran kami, semua uang itu memang digunakan untuk transaksi Forex dan bitcoin,” lanjutnya.

Tersangka diancam dengan hukuman di atas 5 tahun penjara dan dikenakan pasal 2 junto pasal 64 UU nomor 31 tahun 1999, pasal 3 junto pasal 64 UU nomor 31 tahun 1999 dan pasal 8 UU Korupsi. “Pada hari ini juga dilakukan tindakan hukum terhadap tersangka. Tetapi kita menunggu dulu syarat-syarat tertentu apakah tersangka ini layak ditahan atau tidak karena terkait kesehatan,” pungkasnya.

Sumber : DetikNews

About ernawati

Check Also

Warga Korea Selatan Investasikan Rata-Rata $ 6.000 Dalam

Ahli: Proyek Kripto Korea Selatan Ingin Meninggalkan Negara Untuk Bursa Luar Negeri

Jumlah proyek mata uang digital Korea Selatan yang meninggalkan negri Ginseng tersebut untuk mendaftarkan produk …