Saturday, July 2, 2022
Authorised and Regulated Broker
  • Berita

Dolar AS Kembali Turun Selama 2 Hari Berturut-Turut, Pelaku Pasar Khawatir Terjadi Perlambatan Ekonomi di Amerika Serikat

Must Read

Euro Membalik Kerugian saat Dolar AS Terjatuh

Euro pulih pada Kamis dari level terendah dua minggu terhadap dolar, yang tersendat setelah data inflasi baru...

Harga Minyak Kembali Naik Setelah Terjatuh di Sesi Sebelumnya

Harga minyak naik tipis di awal perdagangan pada hari Jumat, setelah tenggelam di sesi sebelumnya karena OPEC+...

80.000 Miliuner Bitcoin Musnah dalam Kehancuran Besar Kripto 2022

Lebih dari 80.000 investor Bitcoin (BTC) telah dicabut status miliunernya karena penurunan pasar kripto, tetapi harga yang...

Dolar AS kembali mengalami penurunan pada hari ini, Kamis (23/06/2022) di Asia. Indeks dolar AS yang mengukur mata uang negeri pamansam terhadap sejumlah mata uang global lainnya turun tipis sebesar 0,07 persen berada pada level 104,13 pukul 12.08 WIB.

Penurunan greenback tersebut membuat beberapa pasangan mata uang yang diperdagangkan dipasar mengalami pelemahan. Pasangan USD/JPY mengalami penurunan sebesar 0,58 persen dengan nilai 135,48.  Pasangan AUD/USD turun sebesar 0,49 persen pada level 0,6892 dan NZD/USD turun tipis sebesar 0,18 persen menjadi 0,6261. GBP/USD mengalami penurunan tipis sebesar 0,10 persen menjadi 1,2254. Namun, Pasangan USD/CNY mengalami kenaikan tipis sebesar 0,15 persen menjadi 6,7124. 

Dolar AS Anjlok Karena Kekhawatiran Investor Akan Terjadinya Resesi di Negeri Pamansam

Sentimen penurunan indeks dolar AS kali ini karena kekhawatiran investor akan terjadinya perlambatan ekonomi Amerika Serikat akibat tingginya laju inflasi. Federal Reserver (The Fed) melalui ketuanya, Jerome Powell berkomitmen mengendalikan inflasi melalui kenaikan suku bunga, hal ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan menimbulkan resesi. Selain itu, kebijakan The Fed membuat return obligasi dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan terendah selama dua pekan terakhir.

Ketua The Fed, Jerome Powell dalam pidatonya dihadapan senat AS, Rabu (23/06/2022) menyatakan bahwa kenaikan suku bunga yang agresif dapat menyebabkan kontraksi ekonomi.

“Kesaksian semi-tahunan Powell telah memperlemah USD, komentarnya mengenai peningkatan risiko resesi terbukti lebih berat daripada komitmen tanpa syaratnya untuk memulihkan stabilitas harga,” tulis ahli strategi Westpac dalam sebuah catatan.

“Tetapi dengan 75 basis poin masih terbuka untuk Juli dan Dana Fed akan naik di atas 3% pada akhir tahun, dukungan suku bunga USD pada akhirnya seharusnya terus meningkat,” tambah catatan itu.

Terkait data pengangguran AS akan terbit pada hari Kamis sedangkan data konsumen Universitas Michigan akan dirilis pada hari Jum’at pekan depan.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Euro Membalik Kerugian saat Dolar AS Terjatuh

Euro pulih pada Kamis dari level terendah dua minggu terhadap dolar, yang tersendat setelah data inflasi baru...

Harga Minyak Kembali Naik Setelah Terjatuh di Sesi Sebelumnya

Harga minyak naik tipis di awal perdagangan pada hari Jumat, setelah tenggelam di sesi sebelumnya karena OPEC+ mengatakan akan tetap pada rencana...

80.000 Miliuner Bitcoin Musnah dalam Kehancuran Besar Kripto 2022

Lebih dari 80.000 investor Bitcoin (BTC) telah dicabut status miliunernya karena penurunan pasar kripto, tetapi harga yang lebih rendah berarti jumlah koin...

Coinbase ingin Ekspansi ke Eropa di tengah Crypto Winter

Coinbase memperluas operasinya ke berbagai negara di Eropa di tengah "crypto winter." Meskipun memberhentikan banyak karyawan dan membatalkan tawaran pekerjaan, wakil presiden...

Binance akan Bantu Kamboja dalam Mengembangkan Peraturan Kripto

Pertukaran kripto Binance telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Securities and Exchange Regulator of Cambodia (SERC), menurut pengumuman 30 Juni.
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -