Friday, December 9, 2022
Authorised and Regulated Broker
  • Berita

Minyak Mentah Turun Ketika Ada Risiko Kenaikan Produksi Kembali

Must Read

Penelitian: Turki Punya Obsesi dengan Kripto, Khususnya Dogecoin

Kemerosotan pasar kripto tidak berarti minat terhadap kripto juga turun. Sebuah studi baru dari platform pendidikan cryptocurrency...

Dolar Lesu Karena Kekhawatiran Resesi

Dolar AS melemah pada awal perdagangan Eropa Jumat karena meningkatnya kekhawatiran bahwa ekonomi AS menuju resesi, menjelang...

Hong Kong Akan Terapkan UU TradFi untuk Pertukaran Kripto

Dewan legislatif Hong Kong telah mengesahkan amandemen baru terhadap anti-pencucian uang (AML) dan sistem pembiayaan teroris untuk...

Pergerakan minyak mentah saat awal pekan hari Senin ini (12/10) mengalami penurunan yang cukup dalam. Pada dua kontrak berjangka secara kompak mencatatkan penurunan yang cukup besar. Saat sesi awal Asia, kontrak berjangka si Brent mencatatkan penurunan sampai 1,28% menuju ke 41,3 per barel. Kemudian kontrak berjangka WTI juga mengalami penurunan cukup besar mencapai 1,26% menuju ke 40,9.

Sementara itu kemungkinan pergerakan minyak mentah turun saat ini berusaha mematahkan momentum bullish yang dibuat pada pekan lalu. Bahkan kenaikan yang terjadi pekan lalu mampu menorehkan sampai +9% dan menjadi kenaikan paling tinggi dalam tiga pekan terakhir. Brent mengalami kenaikan dalam sepekan sejak terakhir kali bulan Juni kemarin.

Sebenarnya di awal pekan ini minyak mentah bisa saja mencatatkan kenaikan mengingat ada banyak katalis pendukung. Beberapa katalis itu adalah adanya kekhawatiran yang naik pada masalah pemogokan yang terjadi di Norwegia dan juga adanya badai di Pantai Teluk AS. Itu bisa menyebabkan jumlah produksi minyak mentah global mengalami penurunan. Namun sayangnya aksi mogok tersebut berakhir lebih cepat dan menyebabkan minyak mentah turun.

Kemudian masalah yang bisa menyebabkan penurunan minyak mentah yang lebih dalam adalah masalah ketidakpastian stimulus ekonomi AS. Pasalnya antara Demokrat dan Republik terjadi perbedaan pendapat mengenai besaran stimulusnya. Trump sendiri mengajukan dana senilai $1,8 Triliun dan Nancy Pelosi menyatakan penolakan atas usulan tersebut. Dampaknya membawa minyak mentah turun.

Selanjutnya dilansir dari Reuters, JP Morgan menyampaikan prospek pada permintaan energi akan terus turun ketika kenaikan kasus terus terjadi. Sehingga bisa memasak OPEC dan sekutu untuk mengubah rencana pemangkasan produksi yang akan dijalankan 2021 mendatang. Tentunya ini akan menyebabkan dinamika minyak mentah yang lebih ekstrim lagi.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Penelitian: Turki Punya Obsesi dengan Kripto, Khususnya Dogecoin

Kemerosotan pasar kripto tidak berarti minat terhadap kripto juga turun. Sebuah studi baru dari platform pendidikan cryptocurrency...

Dolar Lesu Karena Kekhawatiran Resesi

Dolar AS melemah pada awal perdagangan Eropa Jumat karena meningkatnya kekhawatiran bahwa ekonomi AS menuju resesi, menjelang pertemuan penting Federal Reserve minggu...

Hong Kong Akan Terapkan UU TradFi untuk Pertukaran Kripto

Dewan legislatif Hong Kong telah mengesahkan amandemen baru terhadap anti-pencucian uang (AML) dan sistem pembiayaan teroris untuk memasukkan penyedia layanan aset virtual.

Survei: Lebih dari 90% Konsumen Penasaran dengan Metaverse

Terlepas dari kondisi pasar yang bergejolak selama setahun terakhir, metaverse dan utilitas potensialnya tetap stabil di benak konsumen. Menurut...

Pengembang Ethereum Targetkan Maret 2023 untuk Hard Fork Shanghai

Menurut sebuah diskusi di Pertemuan Pengembang Inti Ethereum ke-151 pada 8 Desember, pemrogram inti telah menetapkan tenggat waktu tentatif Maret 2023 untuk...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -