Wednesday, December 1, 2021
Authorised and Regulated Broker
  • Berita

Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS

Must Read

Bancor Perkenalkan Staking Pool Baru dan Perlindungan Kerugian Instan

Pembuat pasar otomatis terdesentralisasi (AMM) Bancor akan meluncurkan staking pool baru dan peningkatan mekanisme perlindungan kerugian yang...

Minyak Naik di Tengah Taruhan OPEC+ akan Menghentikan Kenaikan Produksi

Harga minyak naik pada hari Selasa, memperpanjang rebound dari penurunan minggu lalu di tengah meningkatnya ekspektasi produsen...

Dolar Turun Menuju Low Satu Minggu, Karena Melonggarnya Kekhawatiran Omicron

Dolar melemah pada Selasa pagi di Asia, tepat di atas level terendah satu minggu selama minggu sebelumnya,...

Pada Kamis (25/11), nilai tukar (kurs) Rupiah mengalami penurunan terhadap dolar AS. Berdasar laman pasar spot Bloomberg, mata uang Rupiah melemah -0,10% atau 14 poin dan berada di level Rp 14.279 dolar AS.

Ternyata tidak hanya rupiah, melainkan sejumlah mata uang di Asia nampak variatif terhadap USD. Salah satunya saat indeks dolar AS melemah di angka -0,11% dan berada di level USD 96,76.

Kemudian mata uang Yen Jepang menguat 0,02% pada level 1155,38. Lalu ada Baht Thailand yang juga menguat 0,31% pada level 33,255. Masih ada dolar Taiwan yang menguat tipis 0,01% pada level 27,795. Terakhir ada Yuan China dan dolar Hongkong yang sama-sama menguat, yuan menguat 0,06% pada level 6,3881 dan dolar Hongkong menguat 0,02% pada level 7,7967.

Selain itu, ada beberapa mata uang yang mengalami penurunan seperti Peso Filipinan yang melemah -0,21% dan berada di level 50,508. Lalu ada Won Korea yang merosot -0,09% pada level 1.189,84. Kemudian ada Ringgit Malaysia yang melemah -0,25% dan berada di level 4,2195. Lalu ada dolar Singapura yang mengikuti penurnan -0,03% pada level 1,3685.

Meski pada Kamis ini dolar AS terkoreksi, namun mata uang tersebut masih berada di level tertinggi terhadap mata uang yang lain. Terutama setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell kembali terpilih dalam jabatan kedua untuk 4 tahun ke depan. Sehingga, hal tersebut semakin mempertegas jika suku bunga AS semakin menguat.

Berdasar Forex News menyebut jika Ibrahim Assuaibi selaku Direktur TRFX sempat mengatakan jika para investor sedang mempertimbangkan langkah Federal Reserve mengenai kebijakan moneter. Sebab selama ini, pasar mata uang masih didukung oleh persepsi yang mana bank sentral global diperkirakan akan membuat pengurangan stimulus pada masa pandemi sekaligus membuat suku bunga menguat.

Terakhir, pemberlakukan pembatasan mobilitas atau lockdown di Eropa terjadi dikarenakan kasus covid semakin meningkat. Hal ini yang menjadi tantangan di masa depan bagi pelaku pasar.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Bancor Perkenalkan Staking Pool Baru dan Perlindungan Kerugian Instan

Pembuat pasar otomatis terdesentralisasi (AMM) Bancor akan meluncurkan staking pool baru dan peningkatan mekanisme perlindungan kerugian yang...

Minyak Naik di Tengah Taruhan OPEC+ akan Menghentikan Kenaikan Produksi

Harga minyak naik pada hari Selasa, memperpanjang rebound dari penurunan minggu lalu di tengah meningkatnya ekspektasi produsen utama akan menghentikan rencana untuk...

Dolar Turun Menuju Low Satu Minggu, Karena Melonggarnya Kekhawatiran Omicron

Dolar melemah pada Selasa pagi di Asia, tepat di atas level terendah satu minggu selama minggu sebelumnya, karena kekhawatiran bahwa varian baru...

Kelly Strategic Management Mengajukan ETF Ethereum Futures

Perusahaan investasi yang berbasis di Denver, Kelly Strategic Management telah mengajukan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang menawarkan eksposur ke kontrak...

Minyak Coba Memulihkan Beberapa Kerugian Karena Omicron

Pasar minyak memulihkan beberapa kerugian mengejutkan pekan lalu yang dipicu oleh kepanikan atas varian Omicron dari Covid setelah beberapa mengatakan bahwa jenisnya...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -