Wednesday, April 14, 2021
Authorised and Regulated Broker
  • Strategi & Teknik Trading Forex

Bangun Optimisme, Hindari Self Sabotage

Must Read

Minyak Mentah Menguat Meski Masih Dalam Kisaran Pergerakan Luas, Menanti Data AS

Arah harga minyak mentah global mencatatkan kenaikan yang cukup mengesankan pada pergerakan hari Selasa(13/4) di sesi Asia....

Masih Terbebani Pandemi, EURUSD Turun Lebih Rendah

Dominasi mata uang Dolar AS pada analisa hari ini tampak terus diperpanjang dan meluas. Penguatan Dolar AS...

Surplus Perdagangan China Menipis, Membuat NZDUSD Bearish Karena Pesimisme

Data China tadi pagi dilaporkan dengan hasil yang dinilai sangat mengecewakan. Data suram itu telah memberikan dampak...

Inforexnews – Sebelum memulai tulisan kali ini yang rada bikin bingung dengan judul yang sedikit berbau “barat” ini, ijinkan saya untuk menceritakan sedikit pengalaman saya mengenai self sabotage ini. Beberapa bulan kebelakang, sekitar 4-5 bulan yang lalu, saya sedang mengalami siklus kebingungan akan perubahan habbit market yang terjadi. Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Yah karena sesuai apa yang saya tulis di edisi sebelum-sebelumnya, kita sebagai trader harus disiplin terhadap sistem trading. Oke, saya sudah melakukan disiplin proses, saya tipe trader yang menggunakan sistem trading yang sudah saya yakini bertahun-tahun silam.

Yang terjadi adalah, perubahan market kurang bersahabat dengan sistem saya saat ini, jika dengan sistem yang sama saya mendapatkan sekian net profit, sekarang (bukan satu – dua hari)tapi berbulan-bulan, hasilnya kurang memuaskan. Bisa dibilang performanya cukup membuat saya geram sebagai orang yang sudah susah payah dengan menahan hasrat untuk tetap pada jalur disiplin.

Saya mengetahui kelemahan saya, ketika market sedang trending, saya berpotensi mendulang keuntungan, sedangkan jika market bergerak dalam konsolidasi, potensi kerugian akan menghimpit balance trading saya.

Ironisnya adalah, trending market seakan menjadi hal yang langka bagi sistem saya, terlalu banyak konsolidasi yang berlarut-larut hingga membuat saya sedikit ragu dengan sistem trading saya sendiri. Saya memang percaya saya akan berpotensi profit pada market trending, namun jika market tak kunjung mengalami trend, bagaimana saya bisa mendapatkan profit?

Akhirnya saya berakhir pada siklus dimana saya berusaha beradaptasi pada kebiasaan market yang berubah. Saya berusaha mencari sistem trading yang tak lekang dengan trending market maupun sideway market. Jawabannya? Scalping.

Haduh, untuk para swing trader, gaya scalping sedikit memberi keraguan, karena dari sisi risk dan reward sangatlah mengganggu logika berpikir para swing trader.

Setelah berhari-hari berselancar di dunia maya, akhirnya mata saya tertuju pada sebuah portofolio trader di forum sosial trading. Portofolio milik trader denmark yang sudah ditutup untuk publik tersebut, sangat menarik. Dari history tradingnya beliau dapat melakukan posisi setiap hari dengan win loss rasio yang mengagumkan. Walaupun beliau hanyalah melakukan scalping.

Saya langsung mencoba mengkontak beliau via email karena saya begitu penasaran.

Mengapa anda scalping dengan nilai pips berbanding stop loss yang tidak masuk akal? Jika anda ijinkan, bolehkan saya mengetahui alasannya?

Akhir jawaban beliau sangat menyentak pola pikir saya,

Awalnya beliau menjawab, kamu trader selama ini dengan apa?

Saya jawab dengan swing trading.

Dan akhirnya beliau menjawab, bagi kamu yang biasa mencari puluhan pips per trade, apakah lebih sulit mencari pips yang lebih kecil?

Saya menekankan sistem ini pada win loss rasio, mindsetnya mudah, yaitu mencari lebih banyak benar dibandingkan mengalami kesalahan. dengan mencari sebuah trade yang menghasilkan hal yang positif dengan nilai kecil, saya memberikan peluang pergerakan harga sebelum mencapai tujuann profit saya. Dan alahasil secara otomatis, win loss rasio saya akan mencapai angka yang tinggi, jika risk reward dimasukkan dalam variable sistem ini, maka akan sangat buruk. Itu dikarenakan dalam 1 kali loss, bisa hampir sama dengan 20 kali sebuah profit.

Kuncinya adalah, apakah anda bisa mencuri kesempatan di market setiap harinya, cobalah lakukan eksperimen terlebih dahulu. Dan anda menghadapi satu trade yang loss, berhentilah menggunakan sistem ini.

Coba lihat terlebih dahulu, berapa yang telah anda berhasil kumpulkan dari cara mencuri dari market setiap hari.

Jawaban yang sangat detil menurut saya, padahal beliau tidaklah terlalu mengenal saya.

Akhirnya setelah mendapatkan jawaban tersebut, saya mulai melakukan back test dan forward test. Hasilnya cukup mengagumkan. Mengapa saya menyebutnya mengagumkan, jika diibaratkan, saya dapat mencapai hasil yang sama dalam waktu yang lebih singkat. Jika dahulu saya membutuhkan 3 bulan untuk mencapai return tertentu, berkat hal ini, saya mendapatkannya dalam waktu kurun dalam 1 bulan.

Mirip spekulasi, namun juga terukur. Disini saya sendiri memberi batas stop saya. Jadi saya memberikan level dimana jika angka tertentu digapai saat saya rugi, saya menganggap ini gagal.

Scalping ini benar-benar harus rendah hati, karena risk reward yang di tentukan sangat mengerikan.

Jadi pada dasarnya memang seperti yang pernah ditulis pada edisi-edisi sebelumnya, apapun gaya tradingnya, sama-sama memiliki potensi mengeruk keuntungan dari pasar, maupun potensi mengalami.

Namun sistem tetap Cuma sebuah sistem. Semua percuma jika sang trader menyabotase diri.

Saat terlalu banyak menang, kita over confident, saat loss besar, kita over reacted.

Kedua sifat ini kadang bisa dibendung, namun entah kenapa kadang bakal muncul lagi tanpa diundang.

Akhirnya sabotase dirilah yang membawa kita pada hasil yang buruk.

Memperbaiki diri dari self sabotage tidaklah mudah, terkadang kita sadar, namun untuk merubahnya menjadi kebiasanya dengan mindset yang baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Perlu waktu, kesabaran, dan kegigihan untuk merubah semua itu.

Belum lagi seringnya mindset ini terkadang muncul seperti pencuri walaupun kita sudah mulai merubahnya. Ada masanya kita mulai kembali melakukan self sabotage.

Self sabotage jika disederhanakan seperti anda ingin berkunjung ke kota lainnya.

Anda tahu bisa sampai, tapi karena anda melakukan sabotase diri, anda mulai menambah variabel-varibale yang bisa menghentikan niatan anda untuk berkunjung ke kota tersebut.

Misalnya anda merasa ada potensi kecelakaan, di hari seperti ini akan terjadi macet yang berlebihan dan membuat badan anda capek. Ada juga alasan seperti menghambur-hamburkan uang, serta beberapa hal lainnya yang mungkin dapat membuat anda duduk terdiam di rumah saja.

Inilah namanya sabotase diri.

Anda tahu bahwa sistem anda akan menghasilkan, namun terkadang anda dapat menyabotase diri karena keadaan. Misal anda mengatakan terlalu tinggi. Anda menyabotase sistem anda yang memberikan identifikasi posisi buy.  Anda no action. Yang paling rumit dari semua ini adalah sabotase diri dan pengendalian diri memiliki perbedaan yang setipis garis lurus. Ingat sabotase diri berkonotasi negatif untuk kegiatan trading, sedangkan pengendalian diri (dari emosi negatif) memberikan efek yang positif.

Menghilangkan pola pikir seperti ini tidaklah instan, dibutuhkan praktek-praktek yang tidak sedikit. Perlu waktu berhari-hari, berbulan hingga tahunan supaya dapat terlepas dari belenggu sabotase diri yang bisa membuat diri anda gagal. Namun saat mulai memudarkan pola pikir sabotase diri, tidak ada jaminan bahwa hal ini tidak akan kembali datang.

Seperti kata pepatah “ Sukses itu berpola, Gagal juga berpola”

Pola-pola sabotase diri akan muncul suatu saat, entah itu hari ini, besok ataupun tahun depan. Dia seperti cuaca yang akan datang suatu saat, pola ini harus dipatahkan dari aktivitas trading anda.

Yang diperlukan adalah sikap optimistic.

Seperti kata jack ma “semua orang sukses punya kesamaan, mereka optimis dengan masa depan”

Perlu sebuah sikap optimis terhadap pencapaian anda di masa depan. Namun ada yang rumit juga disini, optimis yang berlebihan bisa membuat anda jatuh saat mengalami kegagalan, dan kemampuan bouncing back dari kejatuhan menjadi minim. Optimislah dengan logika, bukan dengan optimisme kosong.

Sabotase diri memang mirip benalu yang menempel pada kegiatan trading seseorang, untuk para trader yang belum mencapai tahap aman dalam tradingnya, cenderung sering mengalami self sabotage ini. Ini seperti tembok yang harus anda hancurkan untuk melihat hasil yang baik di masa depan. Butuh waktu menghancurkan tembok yang menjulang tinggi ini, sabarlah, asalkan anda gigih dan sabar dipadu dengan sikap optimis, hasil masa depan tetap menunggu anda dengan indah.

 

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Minyak Mentah Menguat Meski Masih Dalam Kisaran Pergerakan Luas, Menanti Data AS

Arah harga minyak mentah global mencatatkan kenaikan yang cukup mengesankan pada pergerakan hari Selasa(13/4) di sesi Asia....

Masih Terbebani Pandemi, EURUSD Turun Lebih Rendah

Dominasi mata uang Dolar AS pada analisa hari ini tampak terus diperpanjang dan meluas. Penguatan Dolar AS turut membawa mata uang EURUSD...

Surplus Perdagangan China Menipis, Membuat NZDUSD Bearish Karena Pesimisme

Data China tadi pagi dilaporkan dengan hasil yang dinilai sangat mengecewakan. Data suram itu telah memberikan dampak pada mata uang Dolar New...

Optimisme Inggris Gagal Membantu Pound, GBPUSD Tetap Turun Sepanjang Sesi Asia

Mata uang Poundsterling Inggris melemah sepanjang sesi Asia hari Selasa (13/4) ketika berhadapan melawan Dolar AS. Nilai Pound gagal lebih unggul dibandingkan...

Berita Pekan Ini, RBNZ dan Inflasi AS Akan Jadi Fokus Bersama Pidato Fed Powell dan PDB China

Pekan ini sepertinya menjadi saat-saat yang sibuk untuk kawasan Asia. Sementara itu beberapa wilayah lain ada beberapa data ekonomi yang bisa menjadi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -