Monday, September 21, 2020
Authorised and Regulated Broker
  • Strategi & Teknik Trading Forex

Perkembangan Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia (fin)

Must Read

Kava akan Merilis Pasar Uang Lintas-Rantai di Blockchain

Keuangan terdesentralisasi, atau DeFi, platform Kava mengumumkan niatnya untuk menjadi tuan rumah pasar uang lintas rantai di...

WTI OIL : Analisa Teknikal Harian 21 September 2020

Selamat Pagi pembaca, Hari ini, WTI OIL memiliki setup yang menarik untuk trading harian kita. Dimana sejak beberapa hari lalu, komoditas ini...

USDJPY : Analisa Teknikal Harian 21 September 2020

Selamat Pagi pembaca, Analisa USDJPY hari ini memiliki setup yang menarik untuk trading harian kita. Dimana sejak beberapa hari...

Kebijakan Nilai Tukar Pada Periode Ekonomi Terpimpin (1959-1966)

Periode ekonomi pada masa ini sering dinamakan sebagai periode ekonomi terpimpin, ketika semua unsur bangsa berperan sebagai alat untuk mencapai tujuan revolusi. Pada masa ini, perekonomian  Indonesia menghadapi masalah yang lebih berat dibandingkan dengan periode perjuangan kemerdekaan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah lebih mengutamakan kepentingan politik dibandingkan dengan kepentingan ekonomi. Perekonomian pada periode ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah, inflasi yang membumbung tinggi (635% pada tahun 1966), dan investasi merosot tajam. Sementara itu, kebijakan devisa yang ketat menghambat perdagangan dan lalu lintas modal internasional, serta menciptakan pasar gelap dan kegiatan spekulasi valuta asing.Perkembangan Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia II

Sejalan dengan perkembangan ekonomi yang memburuk dan inflasi yang tinggi tersebut, nilai tukar rupiah riil merosot terus sebagaimana terjadi periode kemerdekaan. Perkembangan tersebut
mengakibatkan nilai rupiah yang ditetapkan dengan sistem nilai tukar tetap menjadi over-valued. Untuk mengatasi semua permasalahan tersebut, dari sisi kebijakan moneter, pemerintah melakukan sanering uang pada 25 Agustus 1959 dengan menurunkan nilai uang pecahan Rp500 dan Rp1000 menjadi Rp50 dan Rp100. Selain itu, dari sisi kebijakan nilai tukar, pemerintah kembali melakukan devaluasi nilai tukar rupiah sebesar 74,7% dari Rp.11,40 per USD menjadi Rp.45 per USD. Selanjutnya, pada 13 Desember 1965, pemerintah menerbitkan uang rupiah baru dengan nilai diperkecil, yaitu Rp1000 uang lama sama dengan Rp1 uang baru. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi dampak kenaikan harga dari defisit pengeluaran pemerintah.Perkembangan Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia

Kebijakan Nilai Tukar pada Periode Stabilisasi, Rehabilitasi dan Pembangunan Ekonomi (1966-1983)

Kondisi perekonomian pada periode ini diwarnai dengan inflasi yang sangat tinggi. Sejalan dengan kondisi ekonomi tersebut, kebijakan ekonomi kabinet Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) diarahkan pada program stabilisasi dan rehabilitasi, ekonomi. Program tersebut berhasil menekan laju inflasi dari 635% pada tahun 1965 menjadi 85,10% pada tahun 1968, dan sebesar 9,90% pada tahun 1969. Sementara itu, dalam rangka meningkatkan ekspor pada tahun 1967 pemerintah mengganti sistem bukti ekspor dengan multiple exchange rate system menjadi sistem bonus ekspor dengan sistem nilai tukar mengambang. Dalam sistem bonus ekspor tersebut devisa hasil ekspor dapat diperdagangkan di pasar bebas.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR-KURS

Sejalan dengan pencapaian stabilitas moneter tersebut, mulai tahun 1969 pemerintah membuat rencana pembangunan dalam lima tahun (Repelita). Dalam Repelita, disusun program-program pembangunan
termasuk di dalamnya kebijakan nilai tukar sebagai bagian dari kebijakan moneter. Dari sisi kebijakan nilai tukar dan devisa, pada Agustus 1971 pemerintah memberlakukan sistem devisa bebas dan mendevaluasi nilai tukar Rupiah sebesar 9,8% dari Rp378 per USD menjadi Rp415 per USD.
Devaluasi tersebut dilakukan untuk memperbaiki neraca pembayaran melalui perbaikan ekspor.PENGERTIAN NILAI TUKAR (KURS)

Laju inflasi Indonesia yang cenderung lebih besar dibandingkan negara-negara mitra dagang utama pada tahun 1970-an mengakibatkan nilai tukar rupiah over-valued. Nilai tukar yang cenderung over-valued dapat mengganggu ekspor karena harga-harga barang ekspor lebih mahal dibandingkan negara pesaing. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah mendevaluasi nilai tukar rupiah sebesar 33,6% dari Rp 415 per USD menjadi Rp625 per USD pada 15 November 1978 (Knop 15).SEJARAH SISTEM MONETER INTERNASIONAL II

Sejalan dengan kebijakan devaluasi tersebut, sistem nilai tukar yang digunakan juga diubah menjadi sistem nilai tukar mengambang terkendali. Dalam sistem ini, nilai tukar rupiah diambangkan dengan sekeranjangmata uang mitra dagang utama. Secara harian ditetapkan kurs indikasi dan dibiarkan bergerak pada kisaran kurs tertentu. Pemerintah akan melakukan intervensi apabila nilai tukar bergerak melebihi batas atas atau batas bawah yang ditetapkan. Kebijakan Knop 15 tersebut berhasil
meningkatkan perolehan devisa hasil ekspor.

Kebijakan Nilai Tukar Periode Deregulasi Ekonomi (1983-1996)

Sebagaimana periode sebelumnya, perekonomian Indonesia pada periode deregulasi ekonomi menghadapi masa pasang surut. Pada awal periode ini (tahun 1982/83), perekonomian Indonesia menghadapi tekanan berat terutama disebabkan oleh menurunnya harga minyak di pasar dunia dan
berlanjutnya resesi ekonomi dunia. Pada masa tersebut, perekonomian diwarnai dengan pertumbuhan ekonomi menurun tajam dan defisit neraca pembayaran yang semakin membesar. Selain itu, tingginya laju inflasi dibandingkan dengan beberapa negara pesaing dan mitra dagang utama Indonesia mengakibatkan nilai tukar rupiah over-valued dan menurunkan daya saing barang ekspor Indonesia di luar negeri. Dalam rangka meningkatkan daya saing barang-barang ekspor, kebijakan nilai tukar yang
dilakukan adalah mendevaluasi kembali nilai tukar Rupiah pada 30 Maret1983 sebesar 38,1% dari Rp. 702,50 menjadi Rp 970 per USD.SEJARAH SISTEM STANDAR MONETER INTERNASIONAL I

Selanjutnya, pada September 1986 Pemerintah kembali mendevaluasi nilai tukar rupiah sebesar 45% dari sebesar Rp1.134 per USD menjadi sebesar Rp1.644 USD. Deregulasi sektor moneter, keuangan, dan perbankan tahun 1988 (Pakto 1988) telah berhasil meningkatkan arus modal masuk asing ke
Indonesia. Arus modal masuk tersebut tidak terbatas pada arus modal jangka panjang, tetapi juga arus modal jangka pendek. Arus balik modal jangka pendek dapat berbahaya bagi perekonomian nasional jika Pemerintah tidak mempunyai cadangan devisa yang cukup untuk mempertahankan sistem nilai tukar mengambang terkendali. Untuk menghindarkan dampak negatif dari arus modal jangka pendek tersebut, sejak tahun 1992 dilakukan penyesuaian kebijakan nilai tukar dengan cara memperlebar pita intervensi. Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah dana jangka pendek dipergunakan untuk spekulasi di pasar valuta asingdalam negeri. Kebijakan pelebaran pita intervensi dilakukan denganpelebaran pita intervensi nilai tukar rupiah sebesar Rp 6 pada tahun 1992.KEBIJAKAN NILAI TUKAR MATA UANG

Pelebaran band intervensi dilakukan masing-masing sebanyak dua kali pada tahun 1994, 1995 dan 1996, dengan pelebaran band pada bulan September 1996 dari sebesar R118 (5%) menjadi Rp192 (8%). Pelebaran tersebut juga dimaksudkan untuk mendorong perkembangan pasar valuta asing dan mengurangi ketergantungan permintaan valas terhadap Bank Indonesia.

Bersamaan dengan kebijakan tersebut, sistem nilai tukar mengambang terkendali disempurnakan pada 29 Desember 1995 dengan menerapkan penggunaan batas kurs intervensi di samping kurs konversi. Penetapan batas kurs intervensi dimaksudkan sebagai batas bagi bank untuk membeli atau menjual USD dari Bank Indonesia. Jika kurs rupiah lebih tinggi dari batas atas intervensi, bank dapat membeli USD dari Bank Indonesia. Sebaliknya, dapat menjual USD kepada Bank Indonesia apabila kurs
rupiah lebih rendah dari batas bawah intervensi.MENANGKAP TREND JANGKA PENDEK

Kebijakan Nilai Tukar pada Periode Saat dan Setelah Krisis Ekonomi
dan Moneter (1997- 2003)

Krisis nilai tukar yang dialami oleh Bath Thailand pada pertengahan tahun 1997 telah menyebar dengan cepat ke negara-negara Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Korea. Untuk mencegah terjadinya penularan dari krisis nilai tukar negara tetangga tersebut, Bank Indonesia
melakukan kebijakan-kebijakan untuk mengurangi terjadinya serangan terhadap nilai tukar rupiah. Kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia tersebut meliputi kebijakan pelebaran rentang intervensi (spread) dan intervensi pasar valuta asing. Sebagai langkah pertama, pada 11 Juli 1997, Bank Indonesia memperlebar rentang intervensi nilai tukar dari 8% menjadi 12% dengan batas bawah Rp 2.374 dan batas atas Rp 2.678.Mengenal Lebih Dekat Tiga Jenis Drawdown

Kebijakan ini ditempuh untuk memberi keleluasaan pada pelaku pasar dalam menentukan kurs rupiah dan mengurangi intervensi Bank Indonesia di pasar valas. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan kebijakanmoneter yang ketat dan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam melemahnya nilai tukar rupiah. Untuk mengurangi permintaan terhadap valuta asing maka transaksi forward jual rupiah antara bank dengan nonresident dibatasi menjadi hanya USD lima juta per nasabahBerbagai kebijakan nilai tukar tersebut ternyata tidak mampu meredam depresiasi lebih lanjut terhadap nilai tukar rupiah. Intervensi pasar valuta asing Bank Indonesia hanya memberikan dampak yang sangat marginal,
sementara cadangan devisa mulai menurun akibat kebijakan ini.MEMAKSIMALKAN TRADE DENGAN NARROW CANDLE

Dalam rangka mencegah terkuras habisnya cadangan devisa, maka Pemerintah pada tanggal 14 Agustus 1997 mengambil kebijakan untuk mengambangkan rupiah dengan menganut sistem nilai tukar mengambang bebas. Kebijakan ini sama seperti yang dilakukan negara-negara tetangga,
seperti Thailand mengambangkan nilai tukar bath sesuai mekanisme pasar pada tanggal 2 Juli 1997 dan Philipina mengambangkan peso pada tanggal 11 Juli 1997. Penerapan sistem nilai tukar mengambang ini mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah lebih lanjut. Bahkan hanya dalam jangka waktu4 bulan setelah ditetapkan sistem nilai tukar mengambang, rupiah melemah hingga sebesar 53,2% dari sebesar Rp3.035 per satu dolar Amerika (USD) pada akhir Agustus 1997 menjadi sebesar Rp4.650 pada akhir Desember 1997, dan bahkan pada akhir Januari 1998 nilai tukar anjlok menjadi
Rp10.375.Melemahnya nilai tukar rupiah tersebut terutama disebabkan tingginya arus modal keluar dan peningkatan kegiatan spekulasi terhadap rupiah. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan beberapa permasalahan di dalam negeri, seperti kerusuhan sosial dan ketidakstabilan politik. Kuatnya
pengaruh ketidakstabilitan sosial dan politik terhadap perkembangan nilai tukar tercermin dari pergerakan nilai tukar sejalan dengan perkembangan ekonomi, sosial, dan politik di dalam negeri. Sebagai gambaran pada saat terjadinya kerusuhan sosial pada Mei 1998, nilai tukar rupiah melemah
hingga mencapai sebesar Rp10.525 per satu USD dibandingkan dengan kurs bulan sebelumnya yang hanya sebesar Rp7.970 per satu USD. Bagaimana Cara Menemukan Konsistensi Dalam Trading?

Krisis nilai tukar dengan disertai gejolak sosial di dalam negeri tersebut telah mengakibatkan meroketnya laju inflasi dan kontraksi ekonomi yang sangat dalam pada tahun 1998 . Namun, sejalan dengan perkembangan ekonomi yang semakin membaik, stabilitas moneter dapatterjaga, serta tidak terdapat gejolak sosial yang berarti, perkembangan nilai tukar rupiah pada tahun 2003 cenderung stabil dan menguat.Tips Penyesuain Diri Terhadap Volatilitas Pasar Forex yang Rendah.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Kava akan Merilis Pasar Uang Lintas-Rantai di Blockchain

Keuangan terdesentralisasi, atau DeFi, platform Kava mengumumkan niatnya untuk menjadi tuan rumah pasar uang lintas rantai di...

WTI OIL : Analisa Teknikal Harian 21 September 2020

Selamat Pagi pembaca, Hari ini, WTI OIL memiliki setup yang menarik untuk trading harian kita. Dimana sejak beberapa hari lalu, komoditas ini tampak berada didalam pola yang...

USDJPY : Analisa Teknikal Harian 21 September 2020

Selamat Pagi pembaca, Analisa USDJPY hari ini memiliki setup yang menarik untuk trading harian kita. Dimana sejak beberapa hari lalu, pair ini tampak berada dalam pola harga...

GBPUSD : Analisa Teknikal Harian 21 September 2020

Selamat Pagi pembaca, Hari ini, GBPUSD memiliki setup yang menarik untuk trading harian kita. Dimana sejak beberapa hari lalu, pair ini bergerak dalam sebuah pola harga...

GOLD : Analisa Teknikal Harian 21 September 2020

Selamat Pagi pembaca, Hari ini, GOLD / XAUUSD memiliki setup yang menarik untuk trading harian kita. Dimana sejak beberapa hari lalu, komoditas ini tampak berada dalam sebuah pola...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -