>
Home / Tag Archives: forex

InforexNews: forex

Berita - Peluang Entry - Trading Forecast forex

Perlambatan Ekonomi AS Menahan Suku Bunga The Fed

Sejak beberapa hari lalu, telah terbentuk ekspektasi di kalangan para investor, trader, maupun analis bank – bank besar, bahwa bank Sentral Amerika Serikat, the Fed, kemungkinan akan menahan suku bunga acuannya dalam rapat FOMC di minggu ini.

Juga, timbul adanya kemungkinan jika ketua the Fed, Jerome Powell, dan kolega akan menurunkan Federal Funds Rate juga, meski tidak dalam waktu dekat ini.

Angka pembacaan awal Maret tercatat turun sebesar 3.7, dimana pada Februari sebesar 8.8, dan menjadi yang terendah sejak dua tahun lalu. Pasca rilis data tersebut, imbal hasil dari obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun, yang biasanya menjadi indiktor kenaikan suku bunga the Fed, telah bergerak turun ke 2,58%. Imbal hasil tersebut menjadi yang terendah sejak 4 Januari lalu. Hal ini membuat outlook dari perekonomian Amerika Serikat kian buruk dengan menanti “penyelamatan” dari kebijakan the Fed maupun kondisi global akibat menunggu hasil dari upaya penyelesaian perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina.

Faktor – faktor tersebut membuat indeks US Dollar tertekan ditengah arus Bullish mingguan yang cukup kuat. Para pelaku pasar mungkin masih akan berhati – hati menyikapi situasi perekonomian yang mengkhawatirkan ini.

Baca Juga:

Dalam pengumuman kebijakan moneter kali ini, the Fed juga akan memberikan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Jika the Fed menunjukkan sikap lemah atau bahkan membuka peluang untuk penurunan suku bunga, maka indeks US Dollar akan semakin terpuruk dalam tekanan mata uang lain yang terlihat lebih “Hijau”.

Anggota Parlemen Inggris Menolak Keluar Tanpa Kesepakatan, Kemungkinan Brexit Akan Tertunda Kembali

Pada pertengahan minggu lalu, Anggota parlemen Inggris menolak untuk meninggalkan Uni Eropa tanpa adanya kesepakatan dalam skenario apapun. Hal ini membuka jalan bagi pemungutan suara kembali sebagai upaya untuk menunda Brexit (kembali) setidaknya hingga akhir bulan Juni mendatang.

Anggota parlemen memberikan suara dalam voting dengan suara 321 hingga 278 suara yang mendukung mosi untuk mengesampingkan Brexit tanpa kesepakatan dalam keadaan apapun.

Jika tidak ada kesepakatan yang didapat pada 20 Maret, “Maka sangat mungkin Dewan Eropa pada pertemuan hari berikutnya akan memerlukan  tujuan yang jelas untuk perpanjangan, paling tidak untuk menentukan waktu perpanjangannya, dan setiap perpanjangan di luar 30 Juni 2019 akan butuh Inggris untuk pemilihan parlemen Eropa pada Mei 2019,” bunyi mosi tersebut.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, bersikukuh untuk tidak sepenuhnya mengesampingkan Brexit tanpa kesepakatan (No Deal Brexit). May mengatakan, anggota parlemen perlu menyepakati jalan ke depan sebelum adanya penundaan (Brexit).

Pemerintah Inggris mengatakan sebelumnya mereka akan mengusulkan upaya penundaan Brexit hingga 30 Juni. Jika memungkinkan pada 20 Maret, sehari sebelum KTT Uni Eropa, parlemen bisa menyetujui kesepakatan untuk meninggalkan Uni Eropa. Pemerintah tidak mengatakan kapan mereka akan berencana menggelar pemungutan suara lagi.

Para pengamat meyakini, dengan tertolaknya no deal Brexit, Theresa May sekarang berharap dapat melobi anggota parlemen pro Brexit garis keras untuk memilih kesepakatannya.

Baca Juga:

Setelah pemungutan suara di hari rabu minggu lalu, Komisi Eropa kembali menyatakan posisinya bahwa tidak cukup suara bagi parlemen untuk memilih meninggalkan Eropa tanpa adanya kesepakatan.

Tentu saja, hasil pemungutan suara tersebut membuat banyak anggota pro Brexit dari Partai Konservatif merasa geram.

Pergolakan Brexit ini memang membuat mata uang Poundsterling (dalam pasar uang) bergerak dalam sentimen kuat yang berbeda- beda, dimana sikap pasar masih terlihat cukup tricky dalam arus Bullish mingguan karena para pelaku pasar memiliki ekspektasi yang berbeda ditengah ketidak jelasan (Brexit) ini.

 

 

 

Antisipasi Skema Hard Brexit, Inggris Memangkas Tarif Impor Yang Menahan Laju Poundsterling

Untuk mengantasipasi terjadinya “Hard Brexit” (Tanpa kesepakatan), pemerintah Inggris menyatakan akan menghapus tarif impor barang dan menghindari perbatasan keras antara Inggris dengan Irlandia dan Irlandia Utara.

Pemerintah mengumumkan langkah – langkah tersebut sebagai langkah sementara jelang pemungutan suara oleh parlemen pada Rabu malam lalu untuk menetukan apakah Inggris akan meninggalkan Uni Eropa tanpa adanya kesepakatan pada 29 Maret 2019 mendatang.

Perdana Menteri Inggris,  Theresa May, kembali mengalami kekalahan melawan parlemen dalam kesepakatan pemisahan Brexit yang semakin memperkuat peluang terjadinya Hard Brexit di mata para pengamat dan pelaku pasar global.

Antisipasi ini sontak membuat laju mata uang Poundsterling di pasar mata uang menjadi tertahan, yang bisa kita lihat dari sentimen gerak (dalam teknikal) yang cenderung melemah terhadap beberapa mata uang, terutama pada dolar Amerika di pair GBPUSD.

Dalam rencana tarif untuk Brexit dalam skema “tanpa kesepakatan”, 87% dari total impor ke Inggris berdasarkan nilai barang akan memenuhi syarat untuk akses bebas tarif, naik dari tarif yang sedang berlaku saat ini, yakni sebesar 80%.

Di perbatasan Irlandia, pemerintah Inggris tidak akan memberlakukan pemeriksaan atau kontrol baru bagi barang yang berasal dari Republik Irlandia ke Inggris di Irlandia Utara jika Brexit berakhir dengan tidak adanya kesepakatan, yang artinya, barang – barang yang melintasi perbatasan Irlandia ke Irlandia Utara tidak akan dikenakan tarif impor baru.

 

 

Perang Dagang AS-Cina Memakan Korban, Yen Jepang Melemah!

Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Cina, mulai memberikan efeknya kepada beberapa negara besar lainnya, termasuk Jepang.

Imbasnya, industri mesin di Jepang mulai terpuruk sejak awal tahun ini. Pesanan mesin produksi Jepang mengalami penurunan tercepat pada Januari 2019, dan ini merupakan penurunan tercepat sepanjang empat bulan terakhir akibat perang tarif dagang Amerika Serikat dan Cina yang menghantam perdagangan global, seperti negara – negara Eropa, Jepang, dan beberapa negara besar lain yang banyak melakukan kegiatan ekspor impor, yang akhirnya membuat Yen terpuruk, terutama terhadap dolar Amerika dalam pair USDJPY.

Perang dagang Amerika Serikat dan Cina juga berdampak pada penurunan permintaan dari sektor manufaktur mobil dan peralatan telekomunikasi di Jepang menjadi lebih rendah, dimana industri ini telah mendukung cukup banyak bagi kesehatan perekonomian Jepang.

Para pakar ekonomi memperingatkan bahwa ketidak pastian kebijakan perdagangan dari perang dagang tersebut akan meningkatkan belanja modal kerja di sektor korporasi Jepang. Padahal instrument ini menjadi salah satu bagi penting yang menunjukkan perekonomian Jepang lebih baik.

Sementara Amerika Serikat dan Cina dalam beberapa pekan terakhir secara terbuka berusaha untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan antara keduanya. Sayangnya, kedua negara ini belum menyepakati untuk menghilangkan kebijakan tarif perdagangan demi memperbaiki perdagangan global.

Shuji Tonouchi, ekonom pasar senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, mengatakan, “wajar saja untuk mengatakan bahwa prospek belanja modal kerja di Jepang tidak cerah. Karena ada kebingungan tentang kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan Cina, hal ini membuat perusahaan-perusahaan Jepang lebih pesimistis, yang merupakan risiko bagi rencana pengeluaran modal pada tahun fiskal yang baru.”

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, juga mengatakan, pelemahan modal kerja industri telah terjadi selama enam tahun dia menjabat sabagai pemimpin negara. Maka dari itu, ia kini tengah berjuang untuk menjaga tingkat ekonomi ketika Bank of Japan (BoJ) juga menghadapi tekanan untuk menopang pertumbuhan dengan pemberian stimulus.

Menyoroti kelemahan dalam ekonomi global, pesanan mesin inti dari luar negeri turun 18,1% pada Januari, menurut data kantor Kabinet pemerintahan pada hari. Realisasi tersebut sudah sesuai dengan penurun pada Desember tahun lalu, yang merupakan penurunan tertinggi sejak Januari 2016.

 

 

Hasil Data CPI Membuat Indeks US Dollar Kesulitan Untuk Kembali Menguat

Indeks US Dollar mengalami kesulitan untuk melanjutkan trend Bullish-nya pasca rilisnya data dari indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang menunjukan adanya inflasi yang tetap rendah, menyusul buruknya laporan pada data NFP di akhir pekan lalu yang secara tidak langsung akan cenderung mendukung wacana tetapnya suku bunga dari bank Sentral Amerika Serikat, the Fed.

Hal ini juga kembali menahan laju dolar Amerika dalam menekan mata uang Yen Jepang dan juga mata uang Euro, dimana keduanya cenderung bergerak perlahan meski (khususnya) Euro sedang ditengah sentimen negatif pasca ECB.

Tekanan inflasi menjadi salah satu alasan mengapa the Fed masih merasa nyaman untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga. The Fed menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) untuk melacak inflasi terhadap target 2 persen sebelumnyanya. Namun CPI memberikan wawasan tentang keadaan inflasi terbaru di negeri Paman Sam tersebut.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan pada hari Selasa kemarin bahwa indeks harga konsumen mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen.

CPI tidak berubah selama tiga bulan berturut – turut. Tidak termasuk komponen makanan dan energi yang volatile, CPI naik tipis 0,1 persen yang termasuk kenaikan terkecil dalam beberapa bulan terakhir.

Perlambatan pertumbuhan domestik dan global juga menjaga inflasi tetap terkendali meskipun pasar tenaga kerja yang ketat tetap menaikkan upah. Pertumbuhan upah tahunan melonjak sebesar 3,4 persen di bulan Februari kemarin, kenaikan terbesar sejak April 2009, dari 3,1 persen di Januari.

 

 

 

Cable : Brexit Tidak Akan Pernah Terwujud

INFOREXNEWS – Pemimpin Partai Demokrat Liberal, Vince Cable mengatakan bahwa rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) mungkin tak akan pernah terwujud karena partai politik utama Inggris terpecah dalam memandang isu ini. Kegagalan Perdana Menteri Theresa May dalam memenangkan mayoritas parlemen telah memunculkan keraguan akan kemampuannya dalam memimpin Inggris keluar …

Baca Lebih Lanjut.. »

Pengguna Coinbase Sekarang Dapat Menarik Bitcoin Satoshi Vision (BSV)

Exchanger kripto terbesar yang berbasis di Amerika Serikat, Coinbase, akhirnya memungkinkan para penggunanya untuk menarik Bitcoin Satoshi Vision (BSV)- mata uang kripto yang dibuat dalam hardfork dari blockchain Bitcoin Cash pada 15 November lalu. Pada hari itu, Bitcoin Cash dijadwalkan untuk menerapkan peningkatan pada blockchain-nya, seperti yang diprogramkan untuk dilakukan …

Baca Lebih Lanjut.. »

Sejumlah Tokoh Kemerdekaan Catalunya di Tahan Spanyol

Seperti yang sedang hot saat ini, bahwa Catalunya yang merupakan negara persemakmuran Spanyol, telah melakukan referendum untuk merdeka, dan mereka juga berusaha untuk melakukan dialog dengan pemerintah Spanyol. Sebanyak dua tokoh kemerdekaan Catalunya ditahan tanpa hak bebas dengan jaminan untuk dugaan pidana penghasutan terkait referendum kemerdekaan dari Spanyol. Kedua tokoh …

Baca Lebih Lanjut.. »

Broker Independen Terbesar Brasil Luncurkan Crypto Exchange

Perusahaan induk dari broker independen terbesar di Brasil  menyiapkan exchanger cryptocurrency seperti yang dilaporkan Bloomberg pada hari Kamis. Grupo XP, yang memiliki perusahaan pialang XP Investimentos, berencana untuk meluncurkan platform dalam “bulan depan,” kata sumber berita itu, dan akan mendukung perdagangan bitcoin dan ethereum. Namun, meskipun langkah penting, perusahaan tampaknya …

Baca Lebih Lanjut.. »

Bitfury Menerapkan Jaringan Lightning Ke Platform Pembayaran Crypto Paytomat

Menurut sebuah posting Medium baru-baru ini yang dibuat oleh LightningPeach, “Tim khusus jaringan Lightning Network in-house Bitfury,” Grup Bitfury menuangkan sumber dayanya ke dalam dompet dan sistem vendor Paytomat, memungkinkan “pengguna dan pedagang di sistem Paytomat untuk mengirim dan menerima bitcoin pembayaran melalui Jaringan Petir hampir seketika. ” Kemitraan antara …

Baca Lebih Lanjut.. »